Demi Rezeki, Pedagang di Sekitar Borobudur Berjualan 24 Jam Tanpa Henti
Sumber : Minins.id
Liputan6.com, Magelang – Semangat para pedagang kaki lima (PKL) di kawasan wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tak pernah padam. Di tengah ramainya kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara, sejumlah pedagang bahkan memilih berjualan selama 24 jam penuh tanpa tutup, demi mengais rezeki dari arus wisata yang tak pernah sepi.
Beberapa tenda sederhana tampak berdiri di sepanjang jalan menuju pelataran Borobudur. Di sanalah para pedagang menjajakan berbagai jenis dagangan, mulai dari makanan tradisional, oleh-oleh khas Magelang, minuman dingin, hingga kerajinan tangan bernuansa budaya Jawa dan Buddhisme.
Sulastri, salah satu pedagang makanan ringan, mengaku tetap buka bahkan saat dini hari, terutama di musim liburan dan akhir pekan.
"Kadang yang datang malam-malam itu rombongan dari luar kota yang baru sampai. Ada juga yang kelaparan habis ziarah malam. Kalau kita tidur, siapa yang melayani?" ujarnya sambil tersenyum.
Pasar Malam Tak Resmi di Sekitar Borobudur
Meskipun secara teknis tidak ada pasar malam resmi di area tersebut, keberadaan para PKL yang membuka lapak hingga larut malam menciptakan suasana seperti pasar rakyat kecil. Beberapa bahkan mengandalkan penerangan dari lampu sorot kecil atau lilin seadanya, namun tetap ramai didatangi wisatawan.
Suasana ini memberi warna tersendiri bagi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai kawasan cagar budaya dan objek wisata spiritual.
"Rasanya seperti pasar tiban. Tapi malah seru, bisa beli bakso dan kopi jam dua pagi," ucap Jono, wisatawan asal Klaten yang datang bersama keluarganya.
Di Balik Semangat, Ada Risiko
Namun, tidak semua sisi kehidupan PKL ini berjalan mulus. Sebagian dari mereka harus berjibaku dengan cuaca dingin malam hari, minimnya fasilitas, dan ketidakteraturan lapak yang membuat mereka rawan diusir oleh petugas penataan kawasan.
Beberapa pedagang berharap ada solusi dari pemerintah daerah agar mereka tetap bisa berjualan tanpa mengganggu estetika dan aturan kawasan cagar budaya.
"Kami cuma minta tempat yang tertib, enggak mengganggu pengunjung, tapi tetap bisa cari nafkah," kata Pak Tamin, penjual kopi keliling yang sudah berjualan di sekitar Borobudur sejak tahun 2008.
Harapan dari Para Pedagang
Meski penuh tantangan, semangat para pedagang tetap menyala. Mereka berharap wisata Borobudur terus ramai, dan pengelolaan kawasan wisata bisa lebih berpihak kepada masyarakat kecil.
Borobudur sendiri menjadi salah satu destinasi super prioritas yang dicanangkan pemerintah pusat. Namun, peran ekonomi rakyat di sekitar situs warisan dunia ini tak bisa diabaikan begitu saja.
"Borobudur itu warisan dunia, tapi juga ladang rezeki kami," ucap Sulastri, seraya menyajikan wedang ronde kepada seorang wisatawan asing yang penasaran mencicipi kuliner malam khas Jawa.
Penulis: Nicholas
Sumber: Wawancara lapangan, laporan warga Magelang, Dinas Pariwisata Jawa Tengah
Komentar
Posting Komentar