Dokter Leny Suardi asal Indonesia Rela Tinggalkan Keluarga untuk Misi Kemanusiaan di Gaza

Sumber : Republika

REPUBLIKA, 23 Juli 2025 - Di tengah dentuman serangan udara dan krisis kemanusiaan yang melanda Jalur Gaza, Palestina, seorang perempuan Indonesia menunjukkan keberanian dan ketulusan hati yang luar biasa. Dialah dr. Leny Suardi, Sp.OG, dokter spesialis kandungan asal Kalimantan Utara, yang memilih meninggalkan keluarganya demi mengabdikan diri dalam misi kemanusiaan di wilayah konflik paling berbahaya di dunia.

Dr. Leny merupakan satu dari enam relawan medis yang dikirim oleh Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) ke Gaza, bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan internasional Rahma Worldwide. Ia resmi berangkat dari Jakarta pada 8 Juli 2025 dan mulai bertugas di Rumah Sakit an-Nasser, Khan Yunis, Gaza Selatan sejak 10 Juli.

Dalam kondisi perang yang tak kunjung reda, dr. Leny tetap menjalankan tugas mulianya: merawat ibu-ibu hamil yang terdampak parah oleh kelaparan dan malnutrisi akibat blokade dan agresi militer Israel (IDF). Lebih dari dua juta penduduk Gaza kini hidup dalam penderitaan, kekurangan makanan, layanan kesehatan terbatas, dan ancaman serangan setiap waktu.

“Saya lihat di sini hampir semua ibu hamil mengalami malnutrisi. Mereka sangat kurus, kebutuhan nutrisi seperti zat besi sangat minim,” kata dr. Leny saat dihubungi Republika dari Jakarta, Rabu (23/7/2025).

Ia mengungkapkan, di tengah situasi darurat dan harga bahan makanan yang sangat mahal, imbauan untuk mengonsumsi makanan bergizi seperti daging, ayam, atau ikan nyaris tak bisa diwujudkan. Bahkan para relawan medis pun kerap harus menahan lapar.

Sebelum bergabung dalam misi kemanusiaan, dr. Leny bertugas di Kabupaten Tanah Tidung, Kalimantan Utara. Keinginan untuk mengabdi di Palestina telah lama ia simpan. Bahkan saat mengandung anak keduanya pada tahun 2013, ia memberi nama sang buah hati dengan nama "Gaza" sebagai bentuk kecintaannya pada perjuangan rakyat Palestina.

“Waktu itu saya belum diizinkan suami. Tapi keinginan itu tetap ada,” ungkapnya.

Kesempatan pun datang ketika BSMI membuka pendaftaran relawan untuk misi ke Gaza. Dengan dukungan penuh dari suami dan ketiga anaknya, dr. Leny mantap mengambil keputusan besar tersebut.

Selama bertugas di RS an-Nasser, dr. Leny menghadapi kenyataan pahit: suara ledakan bom menjadi iringan harian saat operasi berlangsung. Ruang bersalin bergetar akibat guncangan serangan udara, namun rasa takut telah berubah menjadi semangat dan kepasrahan.

“Selama saya bertugas, total persalinan di RS Nasser bisa mencapai 15–20 persalinan, baik secara caesar maupun pervaginam. Saya berkolaborasi dengan dokter lain, bidan, perawat, serta residen,” tuturnya.

Bagi dr. Leny, pengabdian ini bukan sekadar tugas profesional, melainkan panggilan kemanusiaan yang mengakar dalam nurani. Di tengah keterbatasan, ia memilih hadir, menolong, dan menjadi harapan bagi ibu-ibu yang sedang berjuang melahirkan kehidupan baru di tengah kehancuran.

Penulis : Intan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dimsum Mentai Chili Oil Narawi Jadi Favorit Baru di Tlogosari Semarang

FOMO yang sehat, anak muda kini ramaikan trend mendaki gunung

Bill Gates Uji Coba Vaksin TBC di Indonesia: Langkah Global Atasi Penyakit Ganas yang Terlupakan