Fenomena Bediding Muncul, Tanda Puncak Kemarau Mulai Terasa di Jawa Tengah
Sumber : Radar Jogja
Minins.id, Banjarnegara - Fenomena bediding, atau udara dingin ekstrem saat malam hingga pagi hari, mulai terasa di sejumlah wilayah dataran tinggi di Jawa Tengah. Fenomena ini menjadi penanda bahwa wilayah tersebut tengah memasuki puncak musim kemarau.
Suhu udara di kawasan pegunungan Dieng tercatat menurun drastis dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu (10/7/2025), suhu udara di Dieng sempat menyentuh angka 6 derajat Celsius saat dini hari, membuat permukaan rumput dan atap rumah tampak memutih akibat embun beku.
"Fenomena ini memang biasa terjadi saat puncak kemarau, terutama di daerah dataran tinggi seperti Dieng. Udara lebih kering, langit cerah tanpa awan, dan angin bertiup lemah sehingga suhu di malam hari menurun drastis," jelas Prakirawan BMKG Ahmad Rofiqin, dikutip dari Jateng.jpnn.com dan Metrotvnews.com.
Wisatawan Mulai Berdatangan, Warga Tetap Siaga
Fenomena bediding justru menarik minat wisatawan yang ingin menyaksikan embun es yang menyelimuti area ladang kentang dan dataran rumput Dieng. Pihak pengelola wisata menyebut peningkatan pengunjung mulai terlihat sejak akhir pekan lalu.
Namun di sisi lain, petani lokal mulai khawatir. Pasalnya, suhu ekstrem ini bisa merusak tanaman, khususnya kentang dan sayuran dataran tinggi lainnya.
"Kalau embunnya terlalu tebal, daun kentang bisa gosong. Ini sudah kami antisipasi dengan pemasangan plastik pelindung," kata Warno (54), petani di Desa Sikunang, Banjarnegara.
BMKG: Puncak Kemarau Akan Berlangsung hingga Agustus
BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan berlangsung hingga pertengahan atau akhir Agustus 2025. Warga diimbau untuk menghemat penggunaan air dan tetap waspada terhadap kebakaran lahan akibat cuaca kering berkepanjangan.
Selain Dieng, fenomena suhu dingin juga mulai dirasakan di wilayah dataran tinggi lainnya seperti Temanggung, Wonosobo, dan sebagian wilayah pegunungan di Magelang.
"Meski menarik secara wisata, masyarakat tetap perlu menjaga kesehatan karena perbedaan suhu siang dan malam cukup ekstrem," tutup BMKG dalam rilisnya.
Penulis : Nicholas
Komentar
Posting Komentar