Tidur dengan Dentuman Bom, Dokter Indonesia di Gaza Bertahan dengan Doa.
Sumber : Republika
REPUBLIKA, 23 Juli 2025 - Suara bom, tembakan, dan dengungan drone menjadi latar kehidupan sehari-hari di Jalur Gaza. Namun, di tengah situasi yang menegangkan itu, seorang dokter asal Indonesia memilih untuk tetap bertahan demi misi kemanusiaan.
Dialah dr. Yenny Rachmawati, Sp.D.V.E, seorang dokter spesialis kulit yang tergabung dalam Tim EMT ke-3 Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).Bersama lima relawan medis lainnya, dr. Yenny tiba di Gaza pada 10 Juli 2025. Pada malam pertama mereka di sana, dentuman bom mengguncang begitu keras hingga membuat para relawan saling berpegangan tangan untuk menenangkan diri. “Saya sampai berpegangan tangan dengan dokter Leny.
Kami hanya bisa saling menguatkan dan menyerahkan semuanya kepada Allah,” ujar dr. Yenny kepada Republika, Rabu (23/7/2025).Tidur dengan suara ledakan menjadi hal biasa. Ketegangan kian terasa karena rumah sakit tempat mereka mengabdi tidak luput dari ancaman serangan. Namun, pelayanan medis tetap harus berjalan. “Pelayanan tetap jalan. Tak ada pilihan lain,” tegas dr. Yenny.Meski bekerja di bawah tekanan tinggi dan kondisi yang jauh dari layak, dr. Yenny merasa terinspirasi oleh semangat para tenaga medis lokal.
Ia menyebut bahwa dokter-dokter di Gaza tetap bekerja dengan profesional meskipun digaji minim, hidup dalam ancaman, dan kerap menahan lapar.Tak hanya itu, ia juga menyaksikan dedikasi luar biasa dari relawan internasional yang datang dari berbagai negara, seperti Mesir, Inggris, Amerika Serikat, Pakistan, Yordania, Australia, hingga Spanyol. “Mereka datang bukan hanya dengan keterampilan, tapi dengan hati yang sudah jatuh cinta pada Gaza,” ungkapnya.Di tengah keterbatasan dan bahaya, dr. Yenny dan tim tetap menjalankan tugas kemanusiaan mereka dengan penuh tanggung jawab. Doa menjadi satu-satunya penenang saat suara bom menghantam malam. Meski tak mudah, mereka memilih bertahan, karena Gaza masih membutuhkan.
Kisah dr. Yenny mencerminkan komitmen luar biasa para relawan medis yang bertahan dan terus berbakti di tengah salah satu zona konflik paling berbahaya di dunia. Dengan dentuman bom sebagai irama malam dan doa sebagai kekuatan, mereka menunjukkan bahwa kemanusiaan dan keyakinan mampu melampaui rasa takut dan kekacauan perang.
Penulis : Intan
Komentar
Posting Komentar